Seorang sahabat di Bandung, membuatkan blog ini khusus untuk kami. Kami tidak tahu persis mengapa dia mengambil nama ” Tifa ” untuk memberi nama untuk blog ini.
Satu hari sebelumnya, dia posting di weblog miliknya tentang ” Ayoo main musik ” dengan mengambil setting anak Papua dengan gaya mengajak, sambil membawa satu jenis alat musik perkusi. Lalu muncul komentar dari teman-teman tentang apa nama alat musik tersebut dan berasal dari mana.
Kami kemudian memberi komentar bahwa itu gambar seorang anak Papua yang membawa salah satu alat musik yang sangat dikenal di Papua yaitu ” Tifa “. Mungkin atas dasar itu, karena keinginan kami yang demikian besar memiliki blog sendiri, lalu sahabat itu membuatkan rangka dasar blog kami ini dan diberi nama Tifa Papua Blog.
October 29, 2008
TIFA
July 7, 2009
Hari Bahagiaku . . .

Malaikat kecilku, pada suatu kesempatan pentas
Waktu masih pukul 6 pagi, ketika aku menerima ucapan selamat ulang tahun dari seorang saudara di Makassar. Rasanya tidak banyak yang memberi ucapan selamat langsung melalui telepon. Entah mengapa? Mungkin karena beberapa teman, saudara, kerabat telah mengirim ucapan selamat melalui wall atau email di facebook. Terima kasih, buat semua yang merasakan kebahagiaanku di pagi ini. Sementara menanti call dari orang-orang tersayang lainnya, tiba – tiba aku dikejutkan dengan suara seperti banyak orang yang sedang menyanyikan sebuah lagu. Aku kenal betul lagu ” Cerahnya hari ini ” - begitu judul lagu itu – yang dinyanyikan dalam komposisi paduan suara. Sungguh mengagetkan! Aku kenal suara mereka. Mereka adalah anak-anak asuhku yang belakangan makin sering aku latih untuk mengikuti berbagai event. Aku bangga kepada mereka. Rupanya secara diam-diam, mereka telah menyusun rencana untuk membuat surprise di hari ulangku . Lagu kedua mengalun. ” You rise me up ” – salah satu lagu kesukaanku. ” Kau angkatku ke atas gunung, melewati badai, aku menjadi kuat karena Engkau besertaku, lebih dari yang aku pikirkan ” - kurang lebih demikian terjemahannya dalam bahasa Indonesia – lagu populer inspirasional yang dinyanyikan Josh Groban itu. Aku bergegas mencuci muka dan mengganti baju tidurku dengan baju kaos dan celana panjang. Aku membuka pintu ruang tamu dan menghampiri mereka yang sudah berbaris di depan garasi mobil sambil memegang baki yang diatasnya berdiri dengan indah, sebuah kue ultah yang lilinnya sudah menyala. Mereka kemudian menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun ketika aku berdiri di depan mereka. Aku turut bertepuk tangan menyambut pagi bahagia ini. Selanjutnya aku dipersilakan meniup lilin ulang tahun, diiringi lantunan lagu ” Tiup lilinnya . . sekarang juga “. Ada rasa haru yang mengusir rasa maluku, betapa anak-anak asuhku begitu menunjukkan rasa sayangnya kepadaku. Satu persatu mereka menyalami dan memberi ucapan selamat ulang tahun untukku.
Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengisi bejana kebahagiaanku di saat pertama aku membuka mata menyambut pagi ini, dengan mengirimkan para malaikat kecilku yang dengan suara merdunya mengajak aku bersyukur akan kebesaranMu.
Pulau Saonek, Raja Ampat

Saonek, tampak dari Waiwo-Raja Ampat

Seorang ibu beristirahat setelah mengail, nampak Saonek di kejauhan
May 20, 2009
Ketika Jadwal Lampu Padam di Rumah Sakit
Menjelang magrib, aku mendampingi seorang teman yang bertugas sebagai dokter spesialis di sebuah Rumah Sakit. Dia baru saja menerima panggilan dari perawat yang bertugas di Ruang A – ruang bagi pasien bedah – yang menyampaikan bahwa dia harus segera ke ruang tersebut karena seorang pasien pasca operasi sedang mengalami alergi setelah suntikan antibiotik, padahal berdasar hasil skin test – test kulit untuk penentuan ada tidaknya alergi – sebelumnya menunjukkan hasil negatif. Teman ku tampak sedikit panik. Ada rasa kuatir dalam dirinya, jangan-jangan pasiennya itu menjadi fatal dan mengalami syok anafilaktik – istilah kedoktean untuk kasus alergi yang berat – yang dapat menimbulkan kematrian bila tidak segera ditangani dengan baik. Dia bergegas berlari ke ruang A, tetapi ada sedikit rasa kaget karena sesampainya di ruang tersebut, lampu padam. Suatu giliran lampu padam yang sangat tidak menguntungkan pada keadaan seperti ini. Sebab, bagaimana dia bisa menentukan tingkat alergi si pasien dalam suasana gelap. Dia coba menyalakan Hpnya yang memiliki lampu senter, tapi tampaknya itu tidak membantu untuk melihat dengan jelas kondisi pasien. Padahal lampu charge milik Rumah Sakit pada rusak semua dan memang genset Rumah Sakit teraebut, entah mengapa sejak lama tidak difungsikan. Suatu alasan klasik selalu dilontarkan oleh pimpinan bahwa tidak ada dana untuk pengoperasian genset. Bagaimana mungkin, Rumah Sakit yang memberi pelayanan bagi masyarakat luas, tidak memiliki genset. Entahlah . . .
April 29, 2009
Sarapan Bersama Anak-Anak Asuhku

Pagi itu udara sangat cerah. Seperti biasanya, aku menikmati udara segar di pagi hari sambil berjalan berkeliling menyusuri jalan di sekitar rumahku. Beberapa anak – yang merupakan anak asuhku – masih bermalasan di depan rumah mereka, tetapi begitu sigap menyapa selamat pagi. Hal yang menjadi kebiasaan anak Papua untuk menyampaikan kata salam – setidaknya begitu menurutku- bila bertemu dengan seseorang di jalan. Sebagian besar anak – anak itu belum mandi. Mungkin karena hari libur sekolah sehingga mereka merasa tidak perlu bergegas untuk mandi pagi. Nampaknya mereka lesu. Entah karena feeling saja atau ada bisikan hati, aku menawarkan kepada mereka untuk menikmati sarapan pagi nasi kuning di rumahku. Tapi ada satu syarat yaitu mereka harus mandi pagi dahulu supaya sehat dan segar. Dasar anak-anak, mereka kemudian menerima tawaranku dengan bergegas berlari ke rumah masing-masing untuk mandi pagi. Aku terus menikmati udara pagi seraya berjalan ke warung nasi kuning langgananku, untuk memenuhi janjiku kepada anak-anak tadi. Aku membeli 16 bungkus nasi kuning, 1 bungkus untukku dan 15 bungkus untuk anak-anak itu. Semoga aku tidak salah ingat jumlah mereka karena aku sering mengumpulkan mereka di pondok belakang rumahku untuk melatih mereka bernyanyi. Dan menjadi kebanggaanku pada anak-anak ini, mereka sudah seringkali diundang ke berbagai tempat untuk menyumbangkan suara merdu khas anak-anak.
Pagi itu membawa kebahagiaan tersendiri bagiku, karena sudah berbagi kebahagiaan kepada anak-anak sekitarku yang telah menjadi anak-anak asuhku. Mungkin mereka memerlukan sarapan pagi senikmat sarapan pagiku di hari itu.
Bakti Sosial di Wasirisin KM-24 Kabupaten Sorong
Sehubungan dengan perayaan ulang tahun GKI Wasirisin KM-24 Jalan Poros Kabupaten Sorong, maka pada tanggal 25 April 2009, Tim kami diundang untuk mengadakan Bakti Sosial Pengobatan Massal bagi masyarakat sekitar. Tim kami yang berangkat terdiri dari : dr. Adrina Waleleng SpA, dr. Jenny SpKK, dr. T. Taba SpTHT, dr. Edwell Sembiring SpOG, drg. Irwin, dr. Ida, dr. Mesly Hetharia, dibantu paramedis Ztr Mangulu dan Ztr Tabitha. Masyarakat sangat antusias untuk hadir dan memeriksakan diri mereka karena mungkin baru kali pertama baksos di tempat tersebut menghadirkan beberapa dokter spesialis sekaligus. Kebanyakan kasus yang ditemui adalah infeksi saluran nafas dan penyakit kulit.
Mari kita terus gelorakan semangat untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.
March 15, 2009
Bakti Sosial Pengobatan Gigi, Mulut dan Kulit

Masyarakat yang berobat
Dalam menunjang kegiatan Yayasan Kasih Immanuel Sorong ketika memperingati HUT nya yang ke-4 pada tanggal 6 Maret 2009, kami diundang mengadakan Bakti Sosial Pemeriksaan dan Pengobatan Gigi, Mulut dan Kulit secara cuma-cuma di PolS mengajak kami untuk bersama-sama melakukan kegiatan Bakti Sosialiklinik Immanuel Boswezen Sorong. Tim kami yang hadir yaitu dr. Jenny Ritung SpKK ( sebagai kordinator aksi ), dr. T. Taba SpTHT, drg. Irwin Sihombing, dr. Susi Jitmau, paramedis dan beberapa anggota. Cukup banyak jemaah dan anggota masyarakat yang hadir. Ada kurang lebih 70 orang yang berobat gigi dan mulut dan kurang lebih setengahnya menjalani ekstraksi ( pencabutan ) gigi sesuai indikasi. Tahun lalu juga dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-3, YKI Operasi Mata Katarak secara gratis bagi 100 lansia yang tidak mampu di wilayah Sorong dan kabupaten pemekaran sekitarnya. Pada saat itu, kami mengundang 8 orang Dokter Spesialis Mata dari Perdami Jawa Barat / RS Mata Cicendo Bandung.
Memang, perlu kita galakkan kerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan suatu karya nyata yang sangat berarti bagi masyarakat yang tidak mampu. . . . ” karena untuk itu kita dipanggil untuk menghasilkan buah . . ” Amin
February 7, 2009
Perjalanan ke Warbefor – Kwor, Kab. Tambrauw

Kapal Amalohi kelebihan muatan. Perjalanan yang penuh resiko
Dalam upaya memberi penyuluhan kesehatan terutama masalah HIV-AIDS yang semakin meningkat di Sorong , sekaligus mengadakan pengobatan cuma-cuma kepada masyarakat yang ada di pedalaman Sorong, maka Tim kami mengadakan kunjungan ke Warbefor.
Tengah malam itu, udara sangat dingin dengan hujan rintik-rintik ketika kami memutuskan untuk berangkat ke Makbon dengan menumpang mobil Avanza. Sebagian rombongan kami sudah mendahului sejak sore hari dengan menggunakan mobil angkutan. Makbon, sebuah kota kecamatan, dipilih menjadi tempat transit untuk memualai perjalanan yang jauh dari Sorong ke Sausapor untuk selanjutnya menuju tujuan akhir di Kampung Warbefor – Wor yang waktu itu masih wilayah distrik Sausapor.
Kami bermalam di Makbon karena menurut rencana perjalanan ke Sausapor harus tepat waktu pada pukul 4 subuh esok harinya. Kami sementara mengaso di sebuah rumah kosong milik seorang pengusaha lokal, dengan beralaskan terpal plastik warna oranye. Ada aroma kurang sedap dan debu yang menyengat hidung. Ternyata rumah itu selama ini digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang dagangan milik pengusaha itu. Tetapi apa boleh buat. Dari pada kami harus tidur di alam terbuka, masih lumayan ada yang mau memberi tumpangan untuk tidur sebentar dan terlindung dari semilir angin laut yang dingin.
Pagi hari, bangun lebih awal karena takut terlambat. Ternyata hujan dan angin kencang mengharuskan kami untuk menunda perjalanan sampai betul-betul tenang. Jam 10 pagi persiapan dimulai dengan lebih dahulu membawa barang-barang ke atas kapal kayu Amalohi yang biasa membawa penumpang dari Makbon ke Sausapor. Setelah itu, penumpang mulai naik ke atas kapal itu. Ternyata ada banyak penumpang yang akan menggunakan kapal itu. Mungkin ada seratusan lebih, padahal kapal tersebut hanya memiliki kapasitas maksimal 70 penumpang. Tapi karena tidak ada alternatif lain, kami turut berdesakan dengan penumpang lain dan kami mengambil tempat duduk di atas atap kapal. Perjalanan sangat menyenagkan karena kami dapat melihat pemandangan luas ke segala penjuru mata angin dan desiran angin laut yang lembut sehingga membuat mengantuk. Tapi, ada juga perasaan takut karena muatan kapal melebihi kapasitas maksimal, berarti sarana keselamatan life jacket pasti terbatas. Saya mengambil kesempatan untuk tidur sebentar demikian juga penumpang lain yang duduk di atas atap kapal.
Karena pergerakan kapal Amalohi terlalu lambat – oleh sebab kelebihan muatan – kami tiba di Sausapor sekitar jam 5 sore. Dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di Sausapor, padahal jarak tsb bisa ditempuh dalam 4 jam. Berarti kami harus bermalam di Sausapor karena perjalanan ke Warbefor tidak mungkin dilakukan dalam kegelapan malam yang sudah mulai turun. Karena kelelahan, kami menikmati tidur dengan lelap sekali.
Jam 6 pagi kami sudah bersiap lagi. Rombongan pertama yang akan berangkat adalah Tim Medis karena mengejar waktu agar ketika tiba di Warbefor pada siang hari, pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat dimulai. Jam 7, boat mulai bergerak meninggalkan Sausapor. Saya ikut rombongan pertama dengan menumpang Long Boat berkekuatan 40 PK. Rombongan besar lainnya akan naik kapal Amalohi – yang terlambat berangkat karena masih mengisi bahan bakar. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Muara Kwor, check point pertama sebelum masuk ke pedalaman Warbefor. Cuaca sangat cerah mengiringi perjalanan kami. Ketika melewati Pulau Dua – pulau yang sangat terkenal karena terdapat bekas pangkalan udara sekutu pada waktu PD ke-2- ombak mulai mambuat long boat kami goyang. Tiga orang penumpang terlindung atap boat, dua orang termasuk saya duduk di tengah boat tanpa atap penutup dan dua orang di depan. Wajah gembira terpancar di wajah para penumpang, apalagi percikan air laut membuat wajah mereka kelihatan tetap segar padahal pagi hari tadi-karena terdesak waktu- sebagian besar tidak mandi. Beberapa nelayan yang mencari ikan di sekitar perairan Werbes ( Werus Besar ) melambaikan tangannya kepada kami. Kami sempat mengabadikan mereka dengan kamera digital, sambil sesekali saya mengambil foto teman-teman yang ada dalam boat. Di kejauhan mulai nampak Muara Kwor, tempat check point pertama, dimana kami menunggu rombongan lainnya untuk secara bersama masuk ke Warbefor.

- Bersama masyarakat di Muara Kali Kwor. Sebelum masuk Warbefor
Jam 8, kami tiba di Muara Kwor. Hanya tampak 2 anak kecil bermain di pantai. Memang jarak perkampungan penduduk dan tepi pantai tempat kami berlabuh cukup jauh. Tak berapa lama, masyarakat mulai berdatangan. Mungkin mereka penasaran tentang siapa dan untuk apa kami datang.
January 26, 2009
Foto Perjalanan ke Fef – Kabupaten Sorong
Kegiatan kali ini dilaksanakan bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Sorong dbp. Ny. Nancy Malak. Pokok kegiatan adalah Pengobatan Massal kepada masyarakat, pembinaan-pembinaan, penyuluhan kesehatan terutama masalah penanggulanag HIV-AIDS dan kesehatan lingkungan, pelatihan keterampilan kepada ibu-ibu PKK.

Persiapan keberangkatan, di bandara DEO Sorong

Pengalungan bunga di bandara Fef

Drg. Irwin Sihombing, Dr. Grace Tenoch SpM

. . . jerih payahmu tidak sia-sia . . .

Children in Fef - Sorong, Papua Barat - Indonesia

Grandima with traditional's wear, Fef-Sorong, Papua Barat-Indonesia
Dari Pelayanan Kesehatan di Minsel
19 Tahun Terpendam
Benda Asing di Lubang Hidung Lidya Diangkat
Cukup lama menderita sakit akibat benda asing yang tertanam di lubang hidung, akhirnya Lidya Moroki ( 21 ), warga Ritey ( Amurang – red ) dapat bernafas lega. Dengan bantuan dr. Taba SpTHT, dari Tim Peduli Kasih Papua, berhasil mengangkat benda seperti batu dari hidung Lidya.
Anak pasangan Piter Moroki dan Eri Lintang ini sudah sekian lama menahan rasa sakit. Namun sakit sang anak berhasil disembuhkan karena jamahan Tuhan melalui kunjungan Tim Peduli Kasih Papua, dalam rangka peringatan HUT ke 74 GMIM bersinode di Minsel, yang disponsori oleh Keluarga Gerungan Wala.
January 20, 2009
Menteri Kesehatan Salut Pada Pengabdian Dr. Wendyansyah Sitompul
JAKARTA – Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengaku salut atas pengabdian dr. Wendyansyah Sitompul, salah satu korban tenggelamnya KM Risma Jaya di perairan Agast, Timika, Papua.
Menkes juga menyerahkan penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala kepada Wendyansyah atas pengabdian dan keikhlasannya menjalankan tugas di daerah terpencil. ” Kita kehilangan putra terbaik yang telah memberikan semangat dan dedikasi tinggi bagi dunia kesehatan,” ujar Menkes terisak di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat, Minggu ( 18/1/2009 ).





