PAPUA SEHAT BLOG

February 7, 2009

Perjalanan ke Warbefor – Kwor, Kab. Tambrauw

Filed under: Galery Photo's — YAKIN PAPUA SEHAT @ 12:43 am
Kapal Amalohi kelebihan muatan. Perjalanan yang penuh resiko

Kapal Amalohi kelebihan muatan. Perjalanan yang penuh resiko

Dalam upaya memberi penyuluhan kesehatan terutama masalah HIV-AIDS yang semakin meningkat di Sorong , sekaligus mengadakan pengobatan cuma-cuma kepada masyarakat yang ada di pedalaman Sorong, maka Tim kami mengadakan kunjungan ke Warbefor.

Tengah malam itu, udara sangat dingin dengan hujan rintik-rintik ketika kami memutuskan untuk berangkat ke Makbon dengan menumpang mobil Avanza. Sebagian rombongan kami sudah mendahului sejak sore hari dengan menggunakan mobil angkutan. Makbon, sebuah kota kecamatan, dipilih menjadi tempat transit untuk memualai perjalanan yang jauh dari Sorong ke Sausapor untuk selanjutnya menuju tujuan akhir di Kampung Warbefor – Wor yang waktu itu masih wilayah distrik Sausapor.

Kami bermalam di Makbon karena menurut rencana perjalanan ke Sausapor harus tepat waktu pada pukul 4 subuh esok harinya. Kami sementara mengaso di sebuah rumah kosong milik seorang pengusaha lokal, dengan beralaskan terpal plastik warna oranye. Ada aroma kurang sedap dan debu yang menyengat hidung. Ternyata rumah itu selama ini digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang dagangan milik pengusaha itu. Tetapi apa boleh buat. Dari pada kami harus tidur di alam terbuka, masih lumayan ada yang mau memberi tumpangan untuk tidur sebentar dan terlindung dari semilir angin laut yang dingin.

Pagi hari, bangun lebih awal karena takut terlambat. Ternyata hujan dan angin kencang mengharuskan kami untuk menunda perjalanan sampai betul-betul tenang. Jam 10 pagi persiapan dimulai dengan lebih dahulu membawa barang-barang ke atas kapal kayu Amalohi yang biasa membawa penumpang dari Makbon ke Sausapor. Setelah itu, penumpang mulai naik ke atas kapal itu. Ternyata ada banyak penumpang yang akan menggunakan kapal itu. Mungkin ada seratusan lebih, padahal kapal tersebut hanya memiliki kapasitas maksimal 70 penumpang. Tapi karena tidak ada alternatif lain, kami turut berdesakan dengan penumpang lain dan kami mengambil tempat duduk di atas atap kapal. Perjalanan sangat menyenagkan karena kami dapat melihat pemandangan luas ke segala penjuru mata angin dan desiran angin laut yang lembut sehingga membuat mengantuk. Tapi, ada juga perasaan takut karena muatan kapal melebihi kapasitas maksimal, berarti sarana keselamatan life jacket pasti terbatas. Saya mengambil kesempatan untuk tidur sebentar demikian juga penumpang lain yang duduk di atas atap kapal.

Karena pergerakan kapal Amalohi terlalu lambat – oleh sebab kelebihan muatan – kami tiba di Sausapor sekitar jam 5 sore. Dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di Sausapor, padahal jarak tsb bisa ditempuh dalam 4 jam. Berarti kami harus bermalam di Sausapor karena perjalanan ke Warbefor tidak mungkin dilakukan dalam kegelapan malam yang sudah mulai turun. Karena kelelahan, kami menikmati tidur dengan lelap sekali.

Jam 6 pagi kami sudah bersiap lagi. Rombongan pertama yang akan berangkat adalah Tim Medis karena mengejar waktu agar ketika tiba di Warbefor pada siang hari, pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat dimulai. Jam 7, boat mulai bergerak meninggalkan Sausapor. Saya ikut rombongan pertama dengan menumpang Long Boat berkekuatan 40 PK. Rombongan besar lainnya akan naik kapal Amalohi – yang terlambat berangkat karena masih mengisi bahan bakar. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Muara Kwor, check point pertama sebelum masuk ke pedalaman Warbefor. Cuaca sangat cerah mengiringi perjalanan kami. Ketika melewati Pulau Dua – pulau yang sangat terkenal karena terdapat bekas pangkalan udara sekutu pada waktu PD ke-2- ombak mulai mambuat long boat kami goyang. Tiga orang penumpang terlindung atap boat, dua orang termasuk saya duduk di tengah boat tanpa atap penutup dan dua orang di depan. Wajah gembira terpancar di wajah para penumpang, apalagi percikan air laut membuat wajah mereka kelihatan tetap segar padahal pagi hari tadi-karena terdesak waktu- sebagian besar tidak mandi. Beberapa nelayan yang mencari ikan di sekitar perairan Werbes ( Werus Besar ) melambaikan tangannya kepada kami. Kami sempat mengabadikan mereka dengan kamera digital, sambil sesekali saya mengambil foto teman-teman yang ada dalam boat. Di kejauhan mulai nampak Muara Kwor, tempat check point pertama, dimana kami menunggu rombongan lainnya untuk secara bersama masuk ke Warbefor.

Bersama masyarakat di Muara Kali Kwor. Sebelum masuk Warbefor
Bersama masyarakat di Muara Kali Kwor. Sebelum masuk Warbefor

Jam 8, kami tiba di Muara Kwor. Hanya tampak 2 anak kecil bermain di pantai. Memang jarak perkampungan penduduk dan tepi pantai tempat kami berlabuh cukup jauh. Tak berapa lama, masyarakat mulai berdatangan. Mungkin mereka penasaran tentang siapa dan untuk apa kami datang.

21 Comments »

  1. Ceritanya mana niiih …… he he he ups lupa nggak boleh ketawa😀

    Comment by nia — February 10, 2009 @ 1:09 am

  2. Maaf, belum sempat dibuat. Sabar, ya.
    Lalu . . koq nggak boleh tertawa.

    Comment by wawan — February 11, 2009 @ 2:51 pm

  3. Maaf, baru ngisi separuh ceritanya

    Comment by tiffa08 — February 24, 2009 @ 4:17 pm

  4. Ditunggu lanjutannya …..:D

    Comment by redorchid — February 26, 2009 @ 3:09 am

  5. Bapak,perkenalkan nama saya Alifia mau bertanya yang pake baju putih yang gak ada rambutnya siapa namanya?

    Comment by alifia — March 1, 2009 @ 8:07 am

  6. Trims, ya . . anak yang manis. Yang pake baju putih itu . . siapa ya? Bapak lupa namanya. Abis orangnya mirip-mirip sich . . Maaf ya .
    Salam kenal untuk Alifia yang pinter.

    Comment by wawan — March 2, 2009 @ 5:16 am

  7. Oooh, bilang salam kenal aja dari Alifia. Kok bisa mirip-mirip yah.

    Comment by alifia — March 2, 2009 @ 10:26 am

  8. Trims ya, Alifia. Kan bisa liat sendiri . . semuanya mirip. Mungkin karena warna kulit dan rambutnya hampir sama, jadi pada mirip. Hehehe

    Comment by wawan — March 3, 2009 @ 6:55 am

  9. Terima kasih juga, iya mirip. berarti mereka kembar yah?

    Comment by alifia — March 4, 2009 @ 1:47 am

  10. Nggak kembar, sayang. Mirip aja gitu . . Nanti kalau mau liat langsung, ke papua aja ya.

    Comment by wawan — March 4, 2009 @ 3:20 am

  11. Kok bisa yah? kalau ke Papua harus nabung dulu yaah… soalnya lihat di peta jauh, pasti ongkosnya mahal.

    Comment by alifia — March 6, 2009 @ 8:33 am

  12. Iya . . biayanya sedikit mahal. Tapi kalau datang tinggal di rumah Bapak aja. Nanti diantar ketemu anak-anak itu. Ditunggu, ya

    Comment by wawan — March 6, 2009 @ 10:41 am

  13. Kalau saya nginep di rumah bapak nggak apa-apa gitu?…terus Bapak punya anak nggak?

    Comment by alifia — March 10, 2009 @ 5:17 am

  14. Iya, nggak apa-apa. Bapak punya anak ada 2. Semuanya cewek.Katanya , salam buat Alifia

    Comment by wawan — March 15, 2009 @ 2:38 am

  15. halo tifa…….skrng kgiatan apa nic…

    Comment by yubel — October 6, 2009 @ 5:03 am

  16. Makasih banyak untuk tim yang udah sampai ke kampung saya di kwoor dan udah mau muat berita dan gambar2 tentang keadaan kampung di sana

    Comment by MAX YEKWAM — July 8, 2010 @ 5:36 am

  17. pak,kpn blk ke kwor lg!!!

    Comment by xavi mambrasar — November 11, 2010 @ 3:17 pm

  18. @Yubel, saat itu Tim lg cooling down jd belum ada kegiatan lagi.
    @Max Yekwam, sama – sama trims. Doakan kami balik lagi tahun 2011.
    @Xavi mambrasar, anda bs ngundang kami untuk datang lg ke sana. Ditunggu, ya.
    BERSAMA KITA BANGUN DAERAH PEDALAMAN PAPUA. TUHAN MEMBERKATI

    Comment by wawan — December 7, 2010 @ 9:26 pm

  19. salam…

    saya pernah pergi ke kwoor dan semua daerah disana..
    saya mau nanya..
    ketemu ngga dengan manusia dengan keadaan fisik berbeda, dimana tulang ekor mereka
    memanjang ke belakang sehingga disebut “manusia berekor”…mereka ini sangat peka terhadap cahaya
    keberadaan mereka di lereng pegunungan tambrauw..
    perjalanan ke tempat mereka melewati daerah kwoor..
    kampung mereka namanya : “jok bi djoker”

    Comment by masadi — March 17, 2011 @ 6:00 am

  20. Masadi, trims atas infonya. kami belum sampai ke sana. Semoga lain waktu bisa kesana dan mencari kampung Jok bi Djoker…

    Comment by wawan — June 30, 2011 @ 10:06 pm

  21. Senang bisa satu pelayanan bersama dokter Titus..Salam kenal dokter..
    Diberkati Tuhan tuk jadi berkat..

    Comment by Roma Sirait — December 10, 2015 @ 10:33 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: